PENGARUH KEDUDUKAN DAN FUNGSIBAHASA INDONESIADI ERA GLOBALISASI
Lukluk RahmawatiNIM: C1011025JURUSAN SASTRA ARAB FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA2012Email: rahmasolo_20@yahoo.com
Pendahuluan
Era globalisasi yang ditandai dengan arus komunikasi yang begitu dahsyat
menuntut para pengambil kebijakan di bidang bahasa bekerja lebih keras untuk
lebih menyempurnakan dan meningkatkan semua sektor yang berhubungan dengan
masalah pembinaan bahasa. Sebagaimana dikemukakan oleh Featherston (dalam Lee,
1996), globalisasi menembus batas-batas budaya melalui jangkauan luas
perjalanan udara, semakin luasnya komunikasi, dan meningkatnya turis
(wisatawan)keberbagainegara.Melihat perkembangan bahasa Indonesia di dalam
negeri yang cukup pesat, perkembangan di luar negeri pun sangat menggembirakan.
Data terakhir menunjukkan setidaknya 52 negara asing telah membuka program
bahasa Indonesia (Indonesian Language Studies). Bahkan, perkembangan ini akan
semakin meningkat setelah terbentuk Badan Asosiasi Kelompok Bahasa Indonesia
Penutur Asing di Bandung tahun 1999. Walaupun perkembangan bahasa Indonesia
semakin pesat di satu sisi, di lain sisi peluang dan tantangan terhadap bahasa
Indonesia semakin besar pula. Berbagai peluang bahasa Indonesia dalam era
globalisasi ini antara lain adanya dukungan luas dari berbagai pihak, termasuk
peran media massa. Sementara itu, tantangannya dapat dikategorikan atas dua,
yaitu tantangan internal dan tantang eksternal, baik linguistis maupun
non-linguistis.
Bahasa Indonesia dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara juga memiliki kedudukan yaitu sebagai bahasa
nasional.Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dimulai saat
dicetuskanyaSumpahPemudatanggal28Oktober1928.
Dalam kaitanya sebagai
bahasa nasional bahasa Indonesia memiliki fungsi yang sangat penting yaitu:
1.lambang kebanggan
kebangsaan
2.lambang identitas
nasional
3.alat perhubung ananta
warga, antardaerah, danantarbudaya,
4.alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa
dengan latarbelakang sosialbudaya dan bahasanya
masing-masing kedalam kesatuan kebangsaan Indonesia.
Apakah kedudukan-kedudukan seperti di atas itu masih
layak disandang oleh bahasa Indonesia untuk sekarang ini? Sementara
saat ini banyak orang Indonesia yang lebih menyukai mahir berbahasa Inggris
dibandingkan berbahasa Indonesia. Seolah-olah mereka merasa dirinya lebih
pandai daripada yang lain karena telah menguasai bahasa asing (Inggris) dengan
fasih,walaupunpenguasaanbahasaIndonesianyakurangsempurna.
Jika
semua ini terus berlanjut bukan tidak mungkin bahasa Indonesia tetap akan
menjadi lambang kebanggaan nasional, lambang identitas nasional, dsb. Karena
fenomena-fenomena seperti itu akan mengakibatkan orang-orang Indonesia lebih suka
menggunakan kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-ungkapan asing. Selain
itu, orang Indonesia akan menghargai bahasa asing secara berlebihan sehingga
ditemukan kata dan istilah asing yang “amat asing”, “terlalu asing”, atau
“hiper asing”. Dan yang lebih parah lagi, banyak orang Indonesia belajar dan
menguasai bahasa asing dengan baik tetapi menguasai bahasaIndonesiaapaadanya.
Oleh
sebab itu, mari kita perjuangkan bahasa Indonesia agar tetap pada fungsi dan
kedudukannya. Dalam era globalisasi ini, jati diri bahasa Indonesia perlu
dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Hal ini
diperlukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus oleh pengaruh dan budaya
asing yang jelas-jelas tidak sesuai dan bahkan tidak cocok dengan bahasa dan budaya
bangsa Indonesia. Pengaruh dari luar atau pengaruh asing ini sangat besar
kemungkinannya terjadi pada era globalisasi ini. Batas antarnegara yang sudah
tidak jelas dan tidak ada lagi, serta pengaruh alat komunikasi yang begitu
canggih harus dihadapi dengan mempertahankan jati diri bangsa Indonesia,
termasuk jati diri bahasa Indonesia.
A. KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti
tercantum pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi Kami Putra dan Putri
Indonesia menjunjung bahasa persatuan , bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa
bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional ; kedudukannya
berada diatas bahasa – bahasa daerah. Selain itu , didalam undang – undang
dasar 1945 tercantum pasal khusus ( BAB XV , pasal 36 ) mengenai kedudukan
bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa bahasa Negara ialah bahasa Indonesia.
Pertama, bahsa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional sesuai dengan
sumpah pemuda 1928; kedua, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa Negara
sesuai dengan undang – undang dasar 1945.
Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita
akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana
pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus
ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi,
maupun komunikasi. Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan
dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung
memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan
tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu,
sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan
dan perkembangan iptek itu.
Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa
Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia
di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda,
yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana
berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak
akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar,
menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika
cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena
bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia
berfungsi sebagai (1) Lambang kebanggaan kebangsaan, (2) lambang identitas nasional,
(3) alat perhubungan antar warga, antar daerah, dan antar budaya,dan (4) alat
yang memungkinkan penyatuan berbagai – bagai suku bangsa dengan latar belakang
social budaya dan bahasanya masing – masing kedalam kesatuan kebangsaan
Indonesia.
Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia kita junjung
disamping bendera dan lambang Negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini
bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri pula sehingga ia
serasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat
memiliki identitasnya hanya apabila masyarakat pemakainya membina dan
mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dariunsur–unsurbahasalain.
Fungsi bahasa Indonesia yang ketiga – sebagai bahasa nasional –
adalah sebagai alat perhubungan antar warga , antar daerah, dan antar suku
bangsa. Berkat adanya bahasa nasional kita dapat berhubungan satu dengan yang
lain sedemikian rupa sehingga kesalah pahaman sebagai akibat perbedaan latar
belakang social budaya dan bahasa tidak perlu dikhawatirkan.kita dapat
bepergian dari pelosok yang satu ke pelosok yang lain di tanah air kita dengan
hanya memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya alat komunikasi.
Fungsi bahasa Indonesia yang keempat dalam
kedudukannya sebagai bahasa nasional, adalah sebagai alat yang memungkinkan
terlaksananya penyatuan berbagai – bagai suku bangsa yang memiliki latar
belakang social budaya dan bahasa yang berbeda-beda kedalam satu kesatuan
kebangsaan yang bulat. Didalam hubungan ini bahasa Indonesia memungkinkan
berbagai bagai suku bangsa itu mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang
bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada
nilai – nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang
bersangkutan. Lebih dari itu, dengan bahasa nasional itu kita dapat meletakkan
kepentingan nasional jauh diatas kepentingandaerahataugolongan.Didalam
kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1)
bahasa resmi kenegaraan , (2) bahasa pengantar didalm dunia pendidikan, (3)
alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan, dan (4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Sebagai bahasa resmi kenegaraan , bahasa Indonesia dipakai didalam segala
upacara, peristiwa dan kegiatan kenegaraanbaik dalam bentuk lisan maupun dalam
bentuk tulisan. Termasuk kedalam kegiatan – kegiatan itu adalah penulisan
dokumen – dokumen dan putusan – putusan serta surat – surat yang dikeluarkan
oleh pemerintah dan badan – badan kenegaraan lainnya, serta pidato-pidato
kenegaraan.
Sebagai fungsinya yang kedua didalam kedudukannya
sebagai bahasa Negara , bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar di lembaga
– lembaga pendidikan mulai taman kanak – kanak sampai dengan perguruan tinggi
diseluruh Indonesia , kecuali di daerah – daerah, seperti daerah aceh, batak ,
sunda , jawa , Madura , bali , dan Makassar yang menggunakan bahasa daerahnya
sebagai bahasa pengantar sampai dengan tahun ketiga pendidikan dasar.Sebagai
fungsinya yang ketiga didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa
Indonesia adalah alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional dan untuk kepentingan
pelaksanaan pemerintah . Didalam hubungan dengan fungsi ini, bahasa Indonesia
dipakai bukan saja sebagai alat komunikasi timbal – balik antara pemerintah dan
masyarakat luas, dan bukan saja sebagai alat perhubungan antar daerah dan antar
suku , melainkan juga sebagai alat perhubungan didalam masyarakat yang sama
latar belakang sosial budaya dan bahasanya.
Akhirnya, didalam kedudukannya sebagai bahasa
Negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pengembangan kebudayaan
nasional , ilmu pengetahuan , dan teknologi . didalam hubungan ini bahasa Indonesia
adalah satu – satunya alat yang memungkinkan kita membina dan mengembangkan
kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memikili cirri – ciri dan
identitasnya sendiri , yang membedakannya dari kebudayaan daerah. Pada waktu yang sama , bahasa Indonesia kita pergunakan sebagai alat
untuk menyatakan nilai – nilai sosial budaya nasional kita.
Disamping itu, sekarang ini fungsi bahasa Indonesia telah pula
bertambah besar. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa media massa . media
massa cetak dan elektronik, baik visual, audio, maupun audio visual harus
memakai bahasa Indonesia. Media massa menjadi tumpuan kita dalam
menyebarluaskan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Di dalam kedudukannya sebagai sumber pemerkaya bahasa daerah , bahasa Indonesia berperanana sangat penting. Beberapa kosakata bahasa Indonesia ternyata dapat memperkaya khasanah bahasa daerah, dalam hal bahasa daerah tidak memiliki kata untuk sebuah konsep. Bahasa Indonesia sebagai alat menyebarluaskan sastra Indonesia dapat dipakai. Sastra Indonesia merupakan wahana pemakaian bahasa Indonesia dari segi estetis bahasa sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa yang penting dalam dunia internasional.
Di dalam kedudukannya sebagai sumber pemerkaya bahasa daerah , bahasa Indonesia berperanana sangat penting. Beberapa kosakata bahasa Indonesia ternyata dapat memperkaya khasanah bahasa daerah, dalam hal bahasa daerah tidak memiliki kata untuk sebuah konsep. Bahasa Indonesia sebagai alat menyebarluaskan sastra Indonesia dapat dipakai. Sastra Indonesia merupakan wahana pemakaian bahasa Indonesia dari segi estetis bahasa sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa yang penting dalam dunia internasional.
Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara
anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya
alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak
yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah
disepakati bersama. Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau
tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila
dibandingkan dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi mengandung banyak segi
yang lemah.
Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah
satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun
bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia,
sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia
secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak
terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.
Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan
kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan
menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat
dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud
tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau
mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan
bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat
luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk
kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orang-orang
berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk
kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus
mengetahui fungsi-fungsi bahasa.
a. Bahasa sebagai Alat
Ekspresi Diri
Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita
hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita. Pada saat
menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa
tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi
pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya
untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni
bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
b. Bahasa
sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri.
Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau
dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi
semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh
orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita.
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita.
c. Bahasa
sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan
pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan
mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan
dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan
secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh
memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial
yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan
menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang
setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi
tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
d.Bahasa
sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial
ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai
penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku
pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa
sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial.
Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. klan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial.
Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. klan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
B. PENGARUH DAN TANTANGAN BAHASA INDONESIA DI ERA
GLOBALISASI
Arus globalisasi tentu saja akan mempengaruhi seluruh
aspek kehidupan dan penghidupan manusia. Pengaruh itu antara lain akan terlihat
di bidang pendidikan dan kebudayaan. Salah satu pokok yang dihadapi dunia
pendidikan adalah identitas bangsa.
Apabila berbicara mengenai identitas bangsa, kita akan
berbicara juga tentang kebudayaan, dan mau tidak mau kita juga akan
mempersoalkan bahasa. Makagiansar (1990) menekankan perlu adanya kesadaran
tentang identitas budaya, Salim (1990) juga menyatakan upaya mempertahankan
identitas merupakan prioritas yang harus diperjuangkan mati-matian dengan ciri
utama keseimbangan antara aspek material dan spiritual.
Jika kita melihat sisi positifnya perkembangan
bahasa Indonesia di dalam negeri yang cukup pesat, perkembangan di luar negeri
pun juga sangat menggembirakan.eksistensi bahasa Indonesia semakin mencuat ketika bahasa Indonesia mulai
diminati orang asing baik yang ada di Indonesia maupun di luar negri.Banyak
darinegara asing telah membuka program
bahasa Indonesia (Indonesian Language Studies). Hal ini terbukti berdasarkan data di Pusat Bahasa
terdapat 139 lembaga pengajaran Bahasa Indonesia untuk orang asing (BIPA) di
luar Indonesia. Lembaga pengajaran BIPA tersebut tersebar di 73 negara,
antara lain seperti: Australia, Amerika,
Jepang, Jerman, Belanda, Inggris, Rusia, Korea, dan Cina.
Walaupun perkembangan bahasa
Indonesia semakin pesat, di sisi lain Pengaruh
arus globalisasi dalam identitas bangsa tercermin antara lain dari sikap lebih
mengutamakan penggunaan bahasa asing daripada bahasa indonesia, misalnya dalam
penamaan kompleks perumahan, dan sikap mementingkan kegiatan tertentu, seperti
demi kegiatan pengembangan pariwisata dan bisnis.
Maka ungkapan bahwa bahasa indonesia
berpotensi hilang jika tidak ada upaya pengembangan, pembinaan, perlindungan,
dan pelestarian bahasa dan sastra indonesia disampaikan oleh Kepala Balai
Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Drs. Widada, M.Hum. (Solopos, 22 oktober 2010).
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sekarang ini tidak sedikit orang lebih bangga
menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.
Kekhawatiran akan hilangnya bahasa Indonesia
sebagai sesuatu hal yang wajar berdasarkan kenyataan yang ada. Akan tetapi yang
perlu dipikirkan adalah bagaimana kita secara konkret dapat menumbuhkembangkan
dan melesdtarikan bahasa Indonesia di semua aspek kehidupan.
Demikian Peluang dan
tantangan terhadap bahasa Indonesia semakin besar pula. Berbagai peluang bahasa
Indonesia dalam era globalisasi ini antara lain adanya dukungan luas dari
berbagai pihak, termasuk peran media massa. Sementara itu, tantangannya dapat
dikategorikan atas dua, yaitu tantangan internal dan tantang eksternal. Tantang
internal berupa pengaruh negatif bahasa daerah berupa kosakata, pembentukan
kata, dan struktur kalimat. Tantangan eksternal datanga dari pengaruh negatif
bahasa asing (teruatama bahasa Inggris) berupa masuknya kosakata tanpa proses
pembentukan istilah dan penggunaan struktur kalimat bahasa Inggris.
1) Berbagai Peluang bagi Pengembangan
Bahasa Indonesia
Pada masa-masa mendatang, terutama pada era
global ini, sumber daya manusia memegang peranan yang sangat menentukan kadar
keberhasilan sesuatu, termsuk keberhasilan pembinaan dan pengembangan bahasa.
Oleh karena itu, para pemegang kebijakan dan pelaksana di lapangan harus
pandai-pandai memanfaatkan peluang sebaik-baiknya, sekecil apa pun peluang itu.
Di antara sekian peluang yang ada, peluang berikut kiranya perlu
dipertimbangkan.
a.
Adanya Dukungan Luas
Telah dikemukakan bahwa pembinaan bahasa Indonesia dari waktu ke
waktu memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan.Hal ini disebabkan oleh
adanya dukungan, terutama dari pemerintah. Dukungan tersebut dapat kita lihat
dengan terbitnya surat dan program berikut.
1) Instruksi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia,
Nomor 20, tanggal 28 Oktober 1991, tentang Pemsyarakatan Bahasa Indonesi dalam
Rangka Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Bangsa;
2) Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia, Nomor I/U/1992, tanggal 10 April 1992, tentang Peningkatan Usaha Pemasyarakatan
Bahasa Indonesia dalam Memperkukuh Persatuan dan Kesatuan Bangsa;
3) Surat
Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur, Bupati, dan Walikoa seluruh Indonesia,
Nomor 1021/SJ, tanggal 16 Maret 1995, tentang Penertiban Pangginaan Bahasa
Asing;
4) Pencangan
Disiplin Nasional oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 Mei 1995 yang salah
satu butirnya adalah penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar; dan
5) Kegiatan
Bulan Bahasa yang dilakukan setiap bulan Oktober, yang dipelopori oleh Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
b.Peran Serta
Media Massa
Tidak dapat disangkal bahwa media massa memberikan andil bagi
pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Kata dan istilah baru, baik yang
bersumber dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, pada umumnya lebih awal
diakai oleh media massa, apakah di media surat kabar, radio, atau televisi.
Media massa memang memiliki kelebihan. Di samping memiliki jumlah pembaca,
pendengar, dan pemirsa yang banyak, media massa mempunyai pengaruh yang besar
di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, media massa merupakan salah satu mitra
kerja yang penting dalam pelancaran dan penyebaran informasi tentang bahasa.
Seiring dengan itu, pembinaan bahasa Indonesia di kalangan media massa mutlak
diperlukan guna menangkal informasi yang menggunakan kata dan istilah yang
menyalahi kaidah kebahasaan. Kalangan memdia massa harus diyakinkan bahwa
mereka juga pembinan bahasa seperti kita.
2) Berbagai Tantangan dan Upaya Penanggulangannya
Masalah pembinaan dan pengembangan bahasa selama ini telah
memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Hal ini tidak berarti di
seputar itu tidak ada hambatan atau tantangan yang memerlukan penanganan yang
serius. Pada masa-masa mendatang pembinaan dan pengembangan bahasa dihadapkan
kepada berbagai tantangan yang apabila hal itu tidak ditangani dengan
sungguh-sungguh akan menjadi kerikil-kerikil tajam yang dapat menghambat usaha
tersebut.
Tantangan-tantangan yang patut
dipertimbangan itu antara lain sebagai berikut:
a. Sumber Daya Manusia (SDM)
Keberhasilan suatu program dan usaha sangat banyak ditentukan oleh
sumber daya manusianya. Keberhasilan pembinaan dan pengembangana bahasa antara
lain juga bergantung kepada manusia pelaksananya. Sehubungan dengan itulah,
sosok yang memegang kendali dalam pembinaan dan pengembangan bahasa
padamasa-masa mendatang dituntut lebih profesional lagi dibidangnya. Kemajuan
atau perkembangan dalam segala sektor kehidupan sebagai dampak kemajuan ilmu
dan teknologi menuntut fungsi optimal bahasa Indonesia sebagai saranan
komunikasi masyarakat Indoesia. Bahasa Indonesia dituntut lebih efektif dan
efisien dalam mewadahi berbagai konsep yang diperlukan masyarakat Idonesia yang
semakin terbuka dan modern. Bahasa Indonesia juga harus bisa memenuhi keperluan
masyarakat pemakainya dalam berbagai bidang, seperti politik, ekonomi,
pendidikan, pengetahuan, teknologi, keamanan, dan kebudayaan (Moeliono, 1985).
Dengan kata lain, bahasa Indonesia harus bisa mewujudkan jati dirinya sebagai
bahasa modern, sebagaimana yang diamanatkan Garis-garis Besar Haluan Negara
(GBHN) (Lihat GBHN 1998).
b. Bahasa Asing dan Gengsi
Sosial
Salah satu butir tujuan pembinaan bahasa Indonesia ialah membina
sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Hal ini memberikan isyarat bahwa masalah
sikap merupakan faktor yang paling menentukan keberhasilan pembinaan tersebut.
Dari sikap positif inilah akan tumbuh kecintaan dan kebanggaan berbahasa
Indonesia.
Sikap positif terhadap bahasa Indonesia akhit-akhir ini memang sudah menampak, walaupun belum seperti yang kita harapkan. Hal ini berarti bahwa pembinaan bahasa Indonesia yang telah dilaksanakan oleh pemerintah dalam berbagai bentuknya telah menmpakkan hasil yang cukup menggembirakan. Bahasa Indonesia telah memperlihatkan peranannya dalam kehidupan bangsa Indonesia, baik sebagai sarana komunikasi maupun sebagai pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan supaya bahasa Indonesia benar-benar menjadi kebanggan kita sebagai bangsa Indonesia.
Sikap positif terhadap bahasa Indonesia akhit-akhir ini memang sudah menampak, walaupun belum seperti yang kita harapkan. Hal ini berarti bahwa pembinaan bahasa Indonesia yang telah dilaksanakan oleh pemerintah dalam berbagai bentuknya telah menmpakkan hasil yang cukup menggembirakan. Bahasa Indonesia telah memperlihatkan peranannya dalam kehidupan bangsa Indonesia, baik sebagai sarana komunikasi maupun sebagai pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan supaya bahasa Indonesia benar-benar menjadi kebanggan kita sebagai bangsa Indonesia.
Jika kita berbicara tentang gengsi sosial dalam hubungannya dengan
bahasa Indonesia secara jujur masih memerlukan penanganan yang serius, baik
yang menyangkut pembinaan maupun pengembangannya. Gengsi sosial bahasa
Indonesia masih kalah tinggi dengan gengsi sosial bahasa asing (terutamabahasa Inggris)
memang kita akui, dan hal ini merupakan tantangan. Namun, hal ini janganlah
kita tinggal diam dan pesimis. Sebaliknya, kita harus nelakukan upaya-upaya
yang dapat mengangkat gengsi sosial atau martabat bahasa Indonesia sehingga
dapat sejajar dengan bahasa-bahasa asing yang sudah maju,mempunyai nama
(prestise), dan berpengaruh besar di kalangan masyarakat.Salah satu cara yang
bisa dilakukan agar bahasa Indonesia mempunyai gengsi sosial yang tinggi di
kalangan masyatakat Indonesia adalah memberikan penghargaan yang proporsional
kepada anggota masyarakat yang mampu berbahasa Indonesia (baik lisan maupun
tulis) dengan baik dan benar, sebagai bagian dari porestasi yang bersangkutan.
Misalnya, sebagai persyaratan pengangkatan pegawai negeri atau karyawan,
sebagai persyaratan promosi jabatan, pemberian royalti yang layak kepada
penulis/pengarang di bidang masing-masing dengan menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar.
Maka ungkapan bahwa bahasa indonesia berpotensi
hilang jika tidak ada upaya pengembangan, pembinaan, perlindungan, dan
pelestarian bahasa dan sastra indonesia disampaikan oleh Kepala Balai Bahasa
Provinsi Jawa Tengah, Drs. Widada, M.Hum. (Solopos, 22 oktober 2010). Lebih
lanjut ia mengatakan bahwa sekarang ini tidak sedikit orang lebih bangga
menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.
Kekhawatiran akan hilangnya bahasa Indonesia
sebagai sesuatu hal yang wajar berdasarkan kenyataan yang ada. Akan tetapi yang
perlu dipikirkan adalah bagaimana kita secara konkret dapat menumbuhkembangkan
dan melesdtarikan bahasa Indonesia di semua aspek kehidupan.
kesimpulan
Tanggung jawab terhadap perkembangan bahasa
Indonesia terletak di tangan pemakai bahasa Indonesia sendiri. Baik buruknya, maju mundurnya, dan tertatur kacaunya
bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab setiap orang yang mengaku sebagai
warga negara Indonesia yang baik. Tidak boleh saling tunjuk satu dengan yang
lain, akan tetapi bagaimana upaya kita secara bergotong-royong untuk
melestarikan dan mengembangkan bahasa Indonesia pengaruh dan tantangannya
terhadap komukasi global.Setiap warga negara
Indonesia harus bersama-sama berperan serta dalam membina dan mengembangkan
bahasa Indonesia itu ke arah yang positif. Usaha-usaha ini, antara lain dengan
meningkatkan kedisiplinan berbahasa Indonesia pada era globalisasi ini, yang
sangat ketat dengan persaingan di segala sektor kehidupan. Maju bahasa, majulah
bangsa. Kacau bahasa, kacaulah pulalah bangsa. Keadaan ini harus disadari benar
oleh setiap warga negara Indonesia sehingga rasa tanggung jawab terhadap
pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan tumbuh dengan subur di
sanubari setiap pemakai bahasa Indonesia. Rasa cinta terhadap bahasa Indonesia
pun akan bertambah besar dan bertambah mendalam. Sudah barang tentu, ini
semuanya merupakan harapan bersama, harapan setiap orang yang mengaku berbangsa
Indonesia.
Oleh karena itu, masing-masing pihak mempunyai peran yang
sangat penting untuk senantiyasa mengembangkan dan melestarikan bahasa
Indonesia sebagai penggerak agar eksistensi bahasa Indonesia do era global
tetap terjaga. Upaya pengembangan bahasa Indonesia secara berkesinambungan akan
mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk bangga kepada bahasa
Indonesia. Dengan demikian, impian untuk mewujudkan bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional akan dapat terwujud apabila kita senantiasa mencintai dan
menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan konteks
pemakaiannya.
Daftar pustaka
Muslich,masnur.2010.Bahasa Indonesia pada Era Globalisasi.Jakarta:
Bumi Aksara
Rohmadi,muhammad dan Sri nugraheni,aninditya.2011.BelajarBahasaIndonesia:Upaya
Terampil dan Menulis Karya Ilmiah. Surakarta: Cakrawala Media
http://fredypurbayadhyfha.wordpress.com/2012/04/24/fungsi-dan-peran-bahasa-indonesia-dalam-era-globalisasi/Surakarta, 30 mei 2012 / 00:50
http://highpecundang.blogspot.com/2009/09/bahasa-indonesia-di-era
globalisasi_25.htmlSurakarta,30mei2012/00:40
http://nellahutasoit.wordpress.com/2012/04/21/bahasa-pada-era-globalisasi/Surakarta, 30 mei 2012 / 02:15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar